Wednesday, April 8, 2015

Inheritage: Boundary of existence Game Buatan INDO


Nama : Inheritage: Boundary of existence 
Genre : Arcade  Action
File : APK + Data
Size : APK (10MB) + Data ( 230MB)
Game : Offline
Req Android : 2.4+

Dub : Indonesia
Sub : English  

[SS]




LINK DOWNLOAD
APK
DATA

Tuesday, April 7, 2015

Fast and Furious 7 (2015) HDCAM NEW AUDIO

Info: http://www.imdb.com/title/tt2820852/
Release Date: 3 April 2015 (USA)
Genre: Action | Crime | Thriller
Stars: Vin Diesel, Paul Walker, Dwayne Johnson
Quality: HDCAM NEW AUDIO
Encoder: SHQ@Ganool
Source: HDCAM New AUDIO x264-CPG
Subtitle: Indonesia, English
Synopsis:
Deckard Shaw seeks revenge against Dominic
Toretto and his family for the death of his
brother.
Trailer


DOWNLOAD:
Link 2
 DOWNLOAD
Subtittle
DOWNLOAD

Friday, March 6, 2015

Download Unity 3 Pro 3D Full + Crack


   Pada kesempatan kali ini saya ingin memposting unity 3d. unity 3d adalah suatu aplikasi untuk membuat suatu game 3d. bagi para game maker aplikasi ini sangat diminati para game maker karena spesifikasi yang tidak terlalu tinggi.
 ini adalah aplikasi yang paling cocok bagi anda para game maker sejati.

  GAME ini telah di lengkapi asset standart dan juga pro beserta game demo yang telah dimuat dalam aplikasi ini. sehingga kita para game maker tinggal mengikuti melihat langkah - langkahnya namun anda harus keatif disini.

Screen Shot :



Spesifikasi untuk apikasi unity 3d :
  • OS: Windows  XP / 7 / 8
  • Processor: core 2 duo @ 2.0 GHz
  • RAM: 2 GB
  • Hard Disk: 5 GB Free
  • VGA : 1 GB
  • Keyboard & Mouse
  • CD/DVD Rom Drive
  • Direct X : Direct X 11
Download Unity 3 3D + full Crack | Download disini
Password Unity 3 3D | ediilmutkj.blogspot.com

NB : Download model 3d nya bisa | Downloadnya  disini
NB : jika anda mendownload model 3d saya sarankan untuk memilih format .fbx
NB : untuk membuat model 3d anda tinggal membuatnya dari aplikasi blender.

DOWNLOAD BLENDER VERSI TERBARU 2.68


   Software animasi Blender terbaru ini di ilengkapi dengan berbagai fungsi professional yang dibutuhkan oleh seorang animator berkelas. Berbagai fitur utamanya diantara lain adalah ia menawarkan berbagai alat-alat penting untuk penciptaan konten 3D termasuk model UV pemetaan, texturing, rigging skinning, animasi partikel an simulasi lainnya bahkan bisa digunakan untuk penciptaan permainan. Selain itu software pembuat animasi Blender 2.68 ini juga dilengakapi dengan lintas platform dengan OpenGL perangkat GUI pada semua platform. Hal ini memungkinakan aplikasi ini dioperasikan pada berbagai system operation yang ada.

  Blender 2.68 sangat kompatible dengan OS Windows seperti 98, NT, 2000, XP, Linux, OS X, FreeBSD, Irix, dan Sun dan berbagai System Operation lainnya. Tinggi arsitektur 3D yang berkualitas memungkinkan penciptaan animasi yang cepat dan berkualitas dengan efisiensi kerja yang baik. Lebih dari 200.000 download pada blender setiap kali ia diperbaharui oleh penggunanya di seluruh dunia secara free. Bagi ana yang sudah penasaran dengan software pembuat animasi ini silahkan download aplikasi ini secara gratis
.


pada postingan kali ini saya ingin berbagi sofware. sofware yang akan saya bagi adalah blender terbaru.
blander adalah sebuah software yang berguna untuk membuat animasi mau pun game tanpa basa-basi saya akan membagikanya kepada anda.


spesifikasi :
  • OS: Windows 2000/XP/7/8
  • Processor: Pentium 4 @ 1.5 GHz or Equivalent
  • RAM: 128 MB
  • Hard Disk: 1 GB Free
  • VGA : 32 MB
  • Keyboard & Mouse
  • CD/DVD Rom Drive

download disini

Thursday, January 22, 2015

Rurouni Kenshin 3: The Legend Ends (2014) WEB-DL + Subtitle Indonesia

rurouni-kenshin-the-legen.jpg
Setiap permulaan punya sebuah akhir, beruntung tidak seperti yang dilakukan Hollywood ketika memperlakukan triloginya belakangan ini, penontonnya tidak perlu menunggu sampai setahun penuh lamanya untuk melihat akhir dari petualangan versi live-action Rurouni Kenshin di layar lebar, terhitung hanya sebulan lebih sedikit sejak penayangan instalemen ke-duanya; Kyoto Inferno, The Legend Ends datang dan mengakhiri salah satu saga adaptasi manga terbaik yang pernah dibuat.

Langsung melanjutkan cerita yang tertinggal dari Kyoto Inferno. Kita tahu apa yang terjadi di akhir seri ke-duanya itu. Kenshin terdampar di pinggir pantai setelah sebelumnya ia di hajar habis-habisan oleh Shishio dan gank Juppongata di kapal perangnya ketika berusaha menyelamatkan Kaouru. Merasa ilmu pedangnya masih belum ada apa-apanya dengan Shisio, bahkan ia harus kewalahan melawan si kecil Soujiro, Kenshin kemudian meminta gurunya, Hiko Seijuro (Masaharu Fukuyama) untuk mengajarkannya jurus pamungkas Hitten Mitsurugi. Sementara di tempat lain, Shisio dan kapal perangnya bergerak untuk menghancurkan Tokyo.

Untuk sebuah finale yang ditunggu-tunggu tentu saja The Legend Ends menghadirkan segunung ekspektasi buat penontonnya, khususnya para fans manga dan animenya. Kyoto Inferno itu ibarat bercinta tanpa ejakulasi, klimaksnya yang nanggung lebih meninggalkan rasa gemas ketimbang puas karena terbentur durasi. Jadi pastinya semua akan menunggu The Legend Ends, seri di mana semuanya akan berakhir untuk selamanya, seri di mana pertarungan antara dua eks Battosai legendaris; Kenshin Vs. Shisio yang paling ditunggu-tunggu itu datang. Tetapi sebelum sampai di sana, penontonnya harus bersabar karena sepertinya sutradara Keishi Ōtomo masih akan berputar-putar ke sana ke mari sebelum membuat kita bisa mencicipi klimaksnya.

Jujur saja, untuk sebuah babak pemungkas dari trilogi besar, The Legend Ends memulainya dengan bertele-tele. Seperti tidak cukup dengan dua seri yang sudah menjadi dasarnya, Ōtomo masih mengulangi kesalahan yang sama, terlalu berkutat pada Kenshin dan Shisio dengan plot yang bertele-tele, meninggalkan begitu saja karakter yang sebenarnya penting, membuatnya tidak lebih dari stiker pemanis. Padahal bisa saja dengan durasi sepanjang itu, Ōtomo bisa saja memberi porsi lebih buat tokoh-tokoh lain misalnya seperti Sanosuke yang sebelumnya sudah disia-siakan di Kyoto Inferno, padahal di anime dan manga-nya ada momen menarik di mana Sanosuke mendapat ilmu tinjunya yang mematikan.

Setelah hampir separuh durasinya seperti berjalan merangkak, dipenuhi oleh cerita dari Kenshin yang memperkuat dirinya dengan bimbingan sang guru serta sedikit pertarungan dengan Aoshi yang sempat teringgal di Kyoto Inferno, Ōtomo langsung tancap gas. Ya, tempo memang menjadi lebih cepat setelah momen eksekusi yang berakhir dramatis, sayang pertarungan dengan kelompok Juppongata bisa dibilang mengecewakan. Hanya Seta Soujiro yang bisa dibilang mendapatkan perlakuan istimewa ketika ia harus kembali berhadapan dengan Kenshin yang mendapatkan upgrade ilmu. Sementara anggota Juppongata lain bisa dibilang hanya sekedar pemanis yang dengan sangat cepat dan mudahnya dikalahkan.

Tetapi segala kekecewaan di awalnya itu akan dibayar lunas oleh Ōtomo. Puncaknya, The Legend Ends menghadirkan sebuah final battle spektakuler yang akan membuat para penontonnya. Ya, lokasinya yang berada di dalam kapal memang tidak sama seperti manga atau anime-nya yang berakhir di gunung Hiei Kyoto, membuat kemunculan Aoshi yang segar bugar pasca dihajar babak-belur oleh Kenshin juga menjadi terasa dipaksakan dengan kemunculan cepatnya.

Dua pertarungan cepat yang terjadi beruntun: Kenshin Vs. Soujiro dan Kenshin, Sanosuke, Aoshi, Saitō Vs. Shisio itu memang epik mandra guna. Kenshin Vs. Saoujiro dipenuhi dengan kecepatan dan kelincahan sebuah adu pedang cantik, sebuah re-match yang fantastis. Sementara foursome battle antara Kenshin and the gank melawan Shisio itu sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Ya, itu mungkin adegan salah satu adegan pertarungan paling hebat yang pernah dibuat. Shisio benar-benar dihadirkan Ōtomo bak monster ganas yang sangat tangguh seperti versi aslinya, bahkan empat pendekar paling kuat Jepang saat itu saja kewahalan menghadapinya.

Pertarungan epik itu jelas tidak mungkin terjadi jika tidak didukung koreografi handal dari anak buah Donnie Yen, Kenji Tanigaki yang berhasil meracik setiap adegan baku hantamnya dengan sangat detil dan begitu keren, bahkan konon semua dilakukan tanpa melibatkan bantuan CGI (kecuali efek pedang api Shisio) bahkan kawat (wire) sekalipun.
Sumber
1-rurouni-Kenshin-review.jpg

A46O0267.jpg

Rurouni_Kenshin-_The_Legend_Ends-0001.jp

LINK DOWNLOAD

SUBTITTLE


Rurouni Kenshin 2: Kyoto Inferno (2014) BluRay + Subtitle Indonesia

kenshin-2-bluray.jpg
Sebagian dari Anda mungkin mengenal judul “Rurouni Kenshin” sebagai “Samurai X”, di mana salah satu saluran televisi lokal di Tanah Air sempat menayangkan film kartun yang bertemakan samurai di zaman Edo tersebut. Selang beberapa tahun lamanya, serial “Rurouni Kenshin” yang memulai debutnya dari komik tersebut kini telah tayang sebagai versi live action untuk layar lebar. Film pertamanya yang bertajuk sama tayang pada tahun 2012 lalu.

Setelah peristiwa yang terjadi di dalam film pertama, kini Kenshin Himura tinggal dengan tenang di kediaman keluarga Kamiya yang juga merupakan sebuah dojo. Namun ketenangannya tersebut terusik ketika dirinya diminta tolong oleh pihak pemerintahan baru Jepang untuk membantu mereka dalam melawan Shishio Makoto, seorang mantan pembunuh bayaran di zaman perang dahulu yang berambisi untuk menggulingkan pemerintahan Jepang.

Ketika Kenshin tengah memikirkan permintaan tolong tersebut, sebuah peristiwa terjadi dan memantapkan hati Kenshin sang “Hitokiri Battosai” untuk pergi ke Kyoto di mana Shishio berada sekaligus menghentikannya. Walau begitu, mengalahkan Shishio bukanlah hal yang mudah, mengingat ia memiliki sekumpulan ahli pedang yang dijuluki “Juppongatana” beserta ambisi besar lainnya yang tidak hanya untuk sekedar menggulingkan pemerintah semata. Mampukah Kenshin melaksanakan tugas berat tersebut tanpa harus melenceng dari idealisme miliknya untuk tidak membunuh orang lagi?

Harus diakui bahwa tidak semua film hasil adaptasi dari komik Jepang (manga) mampu memberikan gambaran dan visualisasi yang baik seperti yang didapatkan dari buku aslinya. Namun lain hal dengan film “Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno” ini. Walaupun tidak semua adegan yang ada persis sama seperti yang terdapat di komiknya berhubung keterbatasan waktu dan mungkin berbagai pertimbangan lainnya, tetapi film ini mampu memberikan nuansa serta karakterisasi yang baik berdasarkan apa yang telah hadir di versi komiknya.

Film “Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno” masih menyuguhkan berbagai kejenakaan maupun keseriusan para karakternya, terlebih lagi para artis yang terlibat di dalam film ini memiliki kemampuan akting yang baik sehingga mampu memberikan penggambaran karakter yang sesuai dengan yang terdapat dalam versi komiknya. Beberapa detil tingkah laku tiap karakter dilakukan dengan apik oleh para artisnya, dengan penampilan serta kostum yang tidak jauh berbeda dengan yang asli pada komiknya. Walau mengikuti perwujudan karakter pada versi asli, setiap karakter yang terdapat di “Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno” ini tidak memiliki kesan “maksa” dan malahan terlihat cukup natural seperti layaknya orang biasa.

Durasi yang dimiliki oleh “Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno” ini tergolong cukup panjang dengan menyajikan beragam drama serta adegan aksi yang porsinya sama sekali tidak sedikit. Jika Anda salah satu yang menantikan seperti apa adegan aksi yang hadir dalam film ini, “Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno” menawarkan begitu banyak adegan baku hantam dan pertarungan senjata yang di antaranya cukup sengit dan seru untuk disimak.

Sayangnya, terlalu panjang durasi film ini mungkin akan membuat beberapa penonton menjadi bosan karena alurnya yang terlalu panjang. Walau begitu, plot cerita yang diberikan oleh film ini cukup kuat mengingat film pertama ini memang “difungsikan” untuk menjelaskan detil cerita dan pengenalan tokoh yang nantinya akan terhubung secara langsung pada film selanjutnya.

Sebagai orang yang pernah menonton versi anime maupun membaca versi komiknya, film “Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno” bisa menjadi sebuah “penyegar” yang baik sekaligus menjadi film yang mampu memberikan rasa nostalgia akan serial lama yang cukup populer di masanya tersebut. Namun hal ini mungkin akan kurang terasa bagi mereka yang belum mengenal serial ini sebelumnya, atau minimal pernah menonton film pertamanya. Walau memiliki beberapa kekurangan, film “Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno” ini pantas untuk disimak sebagai film Jepang yang dapat dikatakan sebagai salah satu film hasil adaptasi komik yang terbaik!
Sumber
t0816super-rkreview_feat6_1.jpg

IMG_2186.jpg

2014_08_22_14_32_40.jpg

LINK DOWNLOAD

SUBTITTLE

Rurouni Kenshin (2012) BluRay + Subtitle Indonesia

rurouni-kenshin-2012-fil.jpg
Rurouni Kenshin (lebih dikenal di sini dengan judul Samurai X) adalah manga / anime yang sangat populer di Indonesia pada awal dekade lalu. Begitu terkenalnya kisah Kenshin sang pengembara stasiun TV yang menayangkannya bahkan mendobrak tradisi dengan memakai lagu opening – ending Jepang aslinya. Bisa dibilang di luar Naruto Rurouni Kenshin inilah yang melekat di hati banyak orang dan memperkenalkan pada sebuah generasi Indonesia mengenai dunia anime modern.

Salah satu era yang paling penting dalam sejarah Jepang adalah jaman Restorasi Meiji. Ini adalah jaman di mana Jepang mulai menerima pengaruh barat untuk memodernisasi negaranya. Sebuah reformasi besar-besaran ini sangat mempengaruhi masyarakat termasuk golongan Samurai. Salah seorang Samurai yang dulunya berjuang supaya pemerintahan Jepang kini bisa berdiri adalah Himura Kenshin.

Dengan aliran Hiten Mitsurugi-ryu yang ia kuasai Kenshin menjadi seorang pembantai yang sangat ditakuti musuh maupun kawan dengan julukan “Hitokiri Battosai”. Akan tetapi setelah era kedamaian Kenshin memutuskan untuk menanggalkan julukannya sebagai seorang Hitokiri (pembantai) dan berubah menjadi Rurouni (pengembara). Dalam pengembaraannya Kenshin mendengar kabar mengenai adanya seorang pembantai palsu yang memakai namanya. Dalam penyelidikannya mencari sang pembantai palsu itu Kenshin kemudian bertemu dengan seorang gadis Kaoru Kamiya – yang juga ingin tahu siapakah sang pembantai yang mencemari nama dojonya.

Jepang adalah negara yang rajin membawa kisah manga mereka menjadi anime seperti 20th Century Boys, Death Note, dan banyak lagi. Dengan kepopuleran dari Rurouni Kenshin di negara Sakura sepertinya memang tinggal waktu saja sampai ia diadaptasi ke format live-action. Disutradarai oleh Keishi Otomo akhirnya Kenshin Himura pun hadir di layar lebar dengan transisi yang sangat respek pada manga orisinilnya.

Artis Takeru Sato sukses memerankan sosok Kenshin yang lemah lembut tetapi juga garang saat serius bertarung. Sisa casting dalam film ini juga bagus seperti Emi Takei dan Yu Aoi sebagai dua gadis yang dekat dengan kehidupan Kenshin: Kaoru dan Megumi. Sayangnya ada dua sosok penting dalam manga Kenshin yang di sini kurang memuaskan penampilannya: Munetaka Aoki tampil terlalu over sebagai Sanosuke Sagara. Kelemahannya ini makin mencolok karena skrip film tak memberi waktu yang cukup untuk menggali persahabatan antara Kenshin dan Sano. Aktor kecil Taketo Tanaka sebenarnya tampil cukup baik sebagai Yahiko tetapi porsinya di film ini agak minim sehingga kurang memberi kesan di hati penonton.

Walaupun dua kisah paling terkenal di Kenshin mempertemukannya dengan Makoto Shishio dan Yukishiro Enishi film ini sama sekali tidak menyinggung keduanya dan memutuskan untuk mengadaptasi kisah pertemuan Kenshin dengan Megumi sekaligus mencampurkannya dengan kisah Kenshin dengan Jin-e. Kalau kalian berharap dengan kemunculan Aoshi dan grup Oniwabanshu harus gigit jari karena iapun absen dalam kisah live-action ini.

Hal yang paling penting dalam adaptasi film pertama – terutama untuk manga panjang dan memiliki banyak karakter memorable seperti Kenshin – adalah membangun fondasi yang kokoh untuk karakter utamanya. Dengan khayalak umum sudah mengenal siapa itu Kenshin, Sanosuke, Kaoru, dan lain-lain maka filmmaker akan lebih leluasa mengalokasikan waktu untuk berkisah mengenai musuh-musuh Kenshin yang lebih ikonik di sekuelnya.

Pengarahan sinematografer Takuro Ishizaka dalam adegan-adegan duel pedang Rurouni Kenshin pun apik. Bekerja sama dengan sutradara Keishi Otomo keduanya sepertinya tahu bahwa pertarungan-pertarungan yang dilakoni Kenshin di manga selalu ada pada ambang batas realistis dan fantasi. Mayoritas duel pedang yang terjadi digarap realistis (dan brutal!) tetapi Otomo tak ragu mengambil sudut pandang dan memerintahkan para aktor melakukan gerakan tidak realistis (bersalto di udara maupun melakukan lompatan super tinggi) ketika melakukan jurus spesial.

Hasilnya adalah film yang bisa memuaskan para penggemar sang Samurai X. Rurouni Kenshin adalah adaptasi yang bagus dari Keishi Otomo. Kendati menyisakan ruang untuk dibenahi di sana-sini secara keseluruhan film ini akan memuaskan dahaga para pembaca manga maupun penonton serial animasi Kenshin.
Sumber
rurouni06.jpg

Rurouni-Kenshin.jpg

51ca8b4d4db5a8a83e58471f4771b36b13256507

LINK DOWNLOAD

SUBTITTLE